Mengenal lebih jauh Jurnalisme Damai
Pelatihan
tentang jurnalisme baru – baru ini di selenggarakan oleh Lembaga Pers Dr.
Soetomo (LPDS) di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) ,
Kebayoran Baru , Jakarta, pada Rabu (17/7) dan membahas tentang Jurnalisme Damai.
Jurnalisme
pada dasarnya alat untuk menyebarkan informasi kepada khalyak, namun pada saat
ini jurnalisme juga sebagai alat untuk menengahkan konflik. Itulah yang menjadi
tema yang akan di bawakan oleh L.R. Baskoro selaku pemateri dari LPDS, pembahasan
awal di mulai dengan pemaparan apasaja yang selalu muncul di peliputan konflik.
“jurnalisme damai seharusnya menyajikan bahasan yang bukan menjadi pemanas
konlik tapi sebaliknya” ujar L.R. Baskoro.
Lalu
pada pembahasan selanjutnya bahasan lebih meluas tentang bagaimana jurnalisme
damai bekerja, seperti tidak menonjolkan perdebatan , tidak mengeksploitasi
kekerasan dan masih banyak lagi. Seperti di pemaparan tersebut bahwasahnya
jurnalisme damai harus bekerja sebagai penengah konflik dan tidak membuat
konflik memanas.
Jurnalisme
damai juga dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang sosiologis/antrapologi,
penggunaan diksi yang tepat pada setiap pemberitaan yang di muat oleh wartawan.
Pada dasarnya penggunaan diksi – diksi harus tidak mengakimi pada salah satu
pihak pada pembuatan berita, selain itu penggunaan diksi yang baik juga akan
membuat berita itu tidak menimbulkan konflik baru.
Selain
itu pak baskoro juga memaparkan bahwa pada jurnalisme damai , wartawan harus
tidak berpihak pada siapapun dan lebih mempelajari tentang hakikat konflik. Pak
Baskoro juga menjelaskan jika kita meliput pemberitaan di tempat konflik agar
kita menghindari atribut atau symbol yang sedang terlibat konflik, karna besar
kemungkinan jika memakai atribut itu bisa jadi wartawan yang meliput bisa
menjadi korban oleh salah satu kelompok yang sedang berkonflik.
Pada
penutup pembahasan mengenai Jurnalisme Damai, pak Baskoro memberikan kata kunci
tentang jurnalisme damai yaitu, pertama hindari opini pribadi, kedua hati –
hati memilih diksi dan yang terkahir yaiutu menyadari akibat dari tulisan dan
pemberitaan yang diakan di publis. Menelaah dari kata kunci tersebut
bahwasahnya tiga kata kunci itu memang menjadi inti dari pemberitaan jurnalisme
buka hanya jurnalisme damai saja.
Selanjutnya
pembahasan di lanjutkan pada sesi Tanya jawab dan banyak dari mahasiswa yang
bertanya tentang jurnalisme damai yang terjadi sekarang malah keterbalikannya,
karna media sekarang lebih memilih tidak memakai ajaran itu pada pemberitaannya
dan malah membuat berita clickbait agar mendapat banyaknya uang yang masuk.
Komentar
Posting Komentar